Minggu, 25 Agustus 2024

ORAL BAD HABITS (kebiasaan buruk yang merusak kesehatan gigi)

 

A.   Macam-macam oral bad habits

1.    Mengisap jempol / jari




Kebiasaan menghisap jari dapat dimulai sejak bayi masih dalam. Salah satu pemicu kebiasaan ini adalah karena bayi merasa kurang puas menghisap susu dari ibu, yang mungkin dikarenakan hanya sedikit ASI yang keluar, ibu terlalu sibuk bekerja atau memang tidak ingin menyusui bayinya. Menghisap ibu jari dibagi menjadi 2 tipe:

a)    Aktif, yaitu anak-anak tersebut secara sadar menghisap ibu jarinya, apabila dibiarkan berkepanjangan, keadaan ini akan menyebabkan pergeseran posisi gigi dan mempengaruhi pertubuhan rahang atas dan rahang bawah

b)    Pasif, anak-anak hanya menempatkan jarinya didalam mulut tanpa menghisap.

Pengaruh dari menghisap ibu jari dapat menyebabkan anterior open bite, posisi gigi atas lebih maju, posisi gigi bawah mundur, langit-langit dalam, kesulitan/masalah berbibcara, gangguan pada ibu jari dll.

2.    Tongue thrust (kebiasaan mendorong lidah).

Tongue thrusting adalah suatu kebiasaan menjulurkan lidah yang berhubungan dengan proses penelanan yang pada kehidupan manusia mengalami perubahan sejak bayi hingga dewasa. Tanda-tanda tongue thrust yang paling sering terjadi adalah lidah maju, mendorong atau terletak diantara gigi-gigi anterior dan adanya aktivitas otot circum oral yang berlebihan selama penelanan. Ada 2 tipe, yaitu:

a)    Simple tounge thrust: Keadaan di mana lidah mendorong ke arah gigi depan saat menelan. Dihubungkan dengan kebiasaan menghisap jari, walaupun kebiasaan menghisap jari tidak lagi dilakukan, lidah tetap terdorong ke depan untuk menutup gigitan open bite saat dilakukan proses menelan.

b)    Kompleks tounge thrust: berhubungan dengan adanya masalah pernafasan dengan hidung, biasanya ditemukan pada kondisi anak yg bernafas dengan mulut.

Dampak dari kebiasaan mendorong lidah adalah maloklusi dan proklinasi gigi dengan diastema, hal tersebut akan mempermudah sisa makanan tersangkut, dan dehidrasi akibat gigitan terbuka dapat menyebabkan karies. Menurut penelitian Dixit, dkk (2013) dorongan lidah tampaknya mempengaruhi beberapa karakteristik jaringan lunak dan gigi yang menyebabkan ketidakmampuan bibir, kebiasaan bernafas melalui mulut, dan aktivitas otot mentalis hiperaktif, pembisuan, gigitan terbuka, dan proklinasi gigi seri atas.

3.    Kebiasaan menggigit dan menghisap bibir ( Lip sucking and lip biting)

Lip sucking (menghisap bibir) dan lip biting (menggigit bibir) menyebabkan gigitan gigi terbuka (open bite) dan gigi depan atas atau bawah terkadang miring ke arah depan (labioversi / gigi tonggos).

Mengigit bibir banyak ditemukan pada anak-anak, kadang terbawa hinga dewasa, hal ini dapat ditimbulkan karena keadaan emosional atau adanya tekanan/stress, sehingga timbul keinginan untuk menggigit gigi. Pengaruh dari kebiasaan ini menyebabkan kerusakan pada daerah bibir, sehingga kondisi bibir tidak terlihat sehat, selalu terdapat luka yang tidak kunjung sembuh, adanya cekungan pada bibir yang digigit

4.    Kebiasaan Menggigit Kuku

Mengigit kuku banyak ditemukan pada anak-anak, kadang terbawa hinga dewasa, hal ini dapat ditimbulkan karena keadaan emosional atau adanya tekanan/stress, sehingga timbul keinginan untuk menggigit gigi.

Pengaruh dari kebiasaan ini menyebabkan kerusakan pada gigi depan yang digunakan untuk menggigit, dapat mempengaruhi sendi pengunyahan, kerusakan pada daerah akar dari gigi tersebut.

Kebiasaan buruk menggigit-gigit kuku terjadi di mana posisi gigi seri atas dan bawah menerima tekanan dari kuku. Kebiasaan mengigit kuku biasanya terjadi pada anak-anak yang sebelumnya memiliki kebiasaan mengigit jari. Penyebab kebiasaan ini adalah adalah stres, meniru anggota keluarga lain, keturunan, perpindahan kebiasaan dari menghisap jari. Kebiasaan buruk ini dapat menyebabkan atrisi (menipisnya lapisan email) gigi-gigi bawah

5.    Kebiasaan menghisap botol susu

Kebiasaan minum susu memakai botol dan dibawa tidur sering dilakukan oleh anak usia sangat muda (1-3 tahun) yang dapat menyebabkan karies dini yang dinamakan Nursing Bottle Syndrome. Aliran saliva pada saat tidur berkurang sehingga susu menumpuk dan menggenangi gigi. Menyebabkan gigi yang berkontak dengan susu atau susu menempel rusak. Penggunaan dot yang berlebihan juga dapat mengubah posisi gigi dan menyebabkan ketidak selarasan dari gigi atas dan bawah.

Dampak dari kebiasaan menghisap botol susu adalah rampan karies dan apabila durasi menggunakannya terlalu  lama dan sering, akan menyebabkan maloklusi. Dijelaskan pada penelitian (Yulita, 2011) menggunakan botol dot dengan durasi, frekuensi dan intensitas yang berlebih dapat menyebabkan gigi depan menjadi maju (protrusif). Adapun menurut penelitian Fajriani, dkk.(2011) Kebiasaan penggunaan botol untuk minum susu pada malam hari merupakan hal yang paling sering terjadi sebagai penyebab karies dini pada anak.

6.    Bernafas melalui mulut

Salah satu bentuk kebiasaan oral yang paling sering menimbulkan kelainan struktur wajah dan oklusi gigi yaitu kebiasaan bernafas melalui mulut. Kebiasaan ini pada umumnya bersifat sementara, tetapi dalam beberapa kasus ada pula yang berlanjut sampai usia anak semakin meningkat. Sama halnya dengan kebiasaan oral lain, kebiasaan bernafas melalui mulut pada anak yang tidak dihentikan secara dini dapat merubah keseimbangan tekanan pada rahang dan gigi yang akan berpengaruh pada pertumbuhan kedua rahang dan posisi gigi, sehingga kebiasaan oral ini dapat menyebabkan maloklusi.

Kebiasaan bernafas melalui mulut merupakan suatu kelainan cara bernafas. Bernapas melalui mulut dapat memengaruhi bentuk rahang. Saat bernapas melalui mulut, otot-otot memberikan tekanan secara terus-menerus sehingga dapat menyebabkan terhambatnya perkembangan rahang bawah dan rahang atas yang membuat rahang menjadi lebih sempit dan dapat berakibat gigi berjejal.

 

B.   Bruxism


Bruxism adalah suatu kondisi yang tidak normal pada rongga mulut, yaitu gerakan-gerakan clinching (mengatupkan gigi pada rahang atas-bawah), dan bracing (menggertakkan gigi). Kebiasaan ini dilakukan tanpa disadari dan biasanya dilakukan pada saat tidur. Umumnya pada saat tidur akan terdengar suara gigi geligi beradu, karena terjadi tekanan sangat kuat maka hal tersebut akan menimbulkan masalah kesehatan gigi secara umum nantinya. Kebiasaan ini timbul pada saat gigi geligi sedang tumbuh (anak-anak) dan seiring dengan waktu, kebiasaan ini akan hilang dengan sendirinya pada saat remaja, namun ada yang menetap hingga dewasa. Menurut Rao (2008), kejadian bruxism terjadi pada anak dan dewasa sebesar 15%.

Bruxism bisa terjadi saat pengidapnya terjaga (terbangun) dan tertidur. Biasanya, pengidap bruxism akan merasa kelelahan pada pagi hari karena mengalami gangguan tidur. Selain itu, saat pagi hari akan terasa wajah yang pegal dan sakit kepala. Tanda lain bisa diperhatikan pada bentuk gigi. Pengidap bruxism akan lebih sering mengalami gigi retak, patah, atau goyang. Selain itu, gigi akan menjadi lebih sensitif dan otot rahang yang sering lelah atau terkunci.

Banyak penyebab dari bruxism, tetapi berdasarkan pengalaman klinis lebih banyak faktor herediter dan faktor emosional. Contohnya pada kasus herediter adalah apabila seorang anak mempunyai kebiasaan ini, biasanya salah satu dari orangtuanya mempunyai kebiasaan yang serupa. Penyebab bruxism lainnya dapat terjadi karena faktor neurotisme tinggi, anak yang melakukan pekerjaan rumah tangga yang dipaksakan oleh orang tua, rasa stress, kemarahan, rasa sakit, dan sering terjadi saat tidur tanpa disadari. Menurut Tarvade (2015) kebiasaan  oral adalah pola kontraksi otot yang dipelajari dan memiliki sifat yang sangat kompleks mereka terkait dengan kemarahan, kelaparan, tidur, erupsi gigi dan rasa takut.

Pada kondisi bruxism yang ringan, tidak diperlukan pengobatan khusus. Namun, jika penyakit ini sudah menyebabkan gangguan kesehatan lain atau perilaku, maka ada beberapa pengobatan yang bisa dilakukan:

a)    Memperbaiki Kondisi Gigi

Jika pengidap bruxism mengalami masalah kondisi gigi yang memicu gejala lainnya, perbaikan gigi perlu dilakukan untuk menurunkan risiko perburukan gejala. Pengobatan ini tidak dapat menghentikan bruxism, tetapi mencegah kerusakan gigi.

b)    Penggunaan Pelindung Gigi

Pelindung mulut dan gigi bisa digunakan untuk memisahkan gigi agar tidak mengalami kerusakan akibat bruxism.

c)    Mengelola Stres dengan Baik

Kondisi stres dan depresi yang tidak diatasi dengan baik memicu kondisi ini. Upaya-upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah adalah mengatasi stres, melakukan pola tidur sehat, dan mengunjungi dokter gigi secara rutin.

Upaya Mengatasi Oral Bad Habits

1.    Penanganan Menghisap Jari

Kebiasaan buruk menghisap jari tidak memerlukan penanganan apapun jika kebiasaan berhenti sebelum usia. tahun dan segera setelah dapat dihentikan, maloklusi akan terkoreksi secara spontan. Kebiasaan menghisap jari umumnya berhenti pada usia 2 tahun atau pada sekitar usia 4 tahun ketika interaksi anak dengan temannya meningkat. Menghisap ibu jari dapat dihentikan dengan memberikan nasehat berupa penjelasan secara halus dan bijaksana agar anak bersifat kooperatif. Dalam memberikan penjelasan, perlu diupayakan anak sadar dan tahu betul mengapa ia harus menghentikan kebiasaannya, misalnya tentang dampak negatif kotoran pada sela-sela kuku yang akan masuk ke mulut dan menyebabkan sakit perut. Anak-anak memiliki keterbatasan kemampuan penalaran secara logis, namun tetap perlu diberitahu bahwa gigi giginya kelak akan terlihat lebih baik jika mereka menghentikan kebiasaan itu. Cara lain adalah dengan membatasi gerakan tangan, misalnya dengan memakai pelindung siku elbow guard atau perban pada siku.

2.    Penanganan Menjulurkan lidah atau mendorong lidah

Menurut Aisyah (2016), penanganan yang bisa dilakukan untuk menghilangkan kebiasaan menjulurkan lidah pada anak-anak. antara lain:

a)    Terapi bicara

b)    Terapi myofunctional, menarik bibir bawah pasien. Sementara bibir menjauh dari gigi, pasien diminta untuk menelan. Jika pasien biasa menjulurkan lidahnya, bibir akan menjadi sedemikian kencang seolah berusaha untuk menarik jari- jari yang menarik bibir pada saat pasien berusaha menelan. Pasien yang menjulurkan lidah tidak dapat melakukan prosedur penelanan mekanis sampai bibi-bibir membuka rongga mulut

c)    Latihan lidah. berlatih meletakkan posisi lidah yang benar saat menelan. Pasien belajar melakukan "klik". Prosedur ini mengharuskan pasien meletakkan ujung lidah pada atap mulut dan menghentakkannya lepas dari palatum untuk membuat suara "klik". Posisi lidah pada palatum selama aktivitas ini kira-kira seperti posisi jika menelan dengan tepat. Pasien juga diminta membuat suara gumaman dimana pasien akan menghisap udara ke dalam atap mulutnya di sekililing lidah. Selama latihan ini, lidah secara alamiah meletakkan dirinya ke atap anterior palatum. Selanjutnya pasien akan meletakkan ujung lidah di posisi ini dan menelan. Latihan ini dilakukan terus-menerus sampai gerakan otot-otot menjadi lebih mudah dan lebih alamiah

d)    Pemakaian peranti ortodonti baik peranti lepasan maupun peranti cekat (tongue crib atau rakes). Baik aplikasi cekat maupun lepasan, keduanya sangat membantu menghilangkan kebiasaan menjulurkan lidah.

3.    Penanganan Lip Sucking/ Lip Biting

Penanganan yang dapat dilakukan untuk menghilangkan kebiasaan mengisap bibir atau menggigit bibir pada anak-anak antara lain :

a)    Myotherapi (latihan bibir)

·      Memanjangkan bibir atas menutupi incisivus rahang atas dan menumpangkan bibir bawah dengan tekanan di atas bibir atas

·      Memainkan alat tiup

b)    Orang tua harus berperan aktif mencari tahu tentang sebab-sebab yangmembuat anak stress. Konsultasi dengan seorang psikiater merupakan salah satu hal yang dapat membantu dalam menghilangkan kebiasaan buruk ini.

4.    Penanganan Kebiasaan menggigit kuku

a.     Memotong kuku

Salah satu cara menghentikan perilaku menggigit kuku adalah rutin memotong kuku agar dapat menjaganya tetap pendek.Pasalnya, kuku panjang cenderung lebih menarik untuk digigit dibandingkan kuku dengan ukuran pendek. Jangan tunggu panjang supaya kita tidak punya kesempatan untuk gigit-gigit kukunya lagi.

b.    Gunakan pewarna kuku

Cat kuku biasanya membuat kuku menjadi tidak enak dan cenderung pahit saat digigit dan dengan kuku yang berwarna-warni, akan membuat sayang untuk menggigiti kukunya.

c.     Menggunakan sarung tangan

Memakai sarung tangan dapat mengurangi kebiasaan menggigit kuku.

d.    Buat tangan atau mulut tetap sibuk

Alih-alih menggigit kuku, bisa juga dengan mengalihkan perhatian tersebut dengan aktivitas lainnya. Cobalah untuk mengalihkan perhatian dengan menggambar, menulis, atau mengunyah permen karet.

e.     Mengatasi kebiasaan secara bertahap

Tidak mudah melepaskan suatu kebiasaan. Jangankan pada anak kecil, orang dewasa pun kadang juga susah untuk meninggalkan kebiasaan buruk mereka. Maka dari itu perlu diketahui dampak kerugian dari menggigiti kuku, dengan begitu perlahan orang yang memiliki kebiasaan tersebut akan menghilangkan kebiasaan mereka.

5.    Penanganan Kebiasaan menghisap dot

a)    Batasi kebiasaan ngempeng

b)    Jika sebelumnya anak selalu mengisap dot setiap saat, maka mulai sekarang, cobalah untuk membatasi kebiasaannya tersebut. Upaya ini bisa orang tua lakukan misalnya dengan memperbolehkan Si Kecil untuk ngempeng pada saat tidur siang dan malam saja.

c)    Alihkan perhatian anak

Apabila anak ingin ngempeng pada saat-saat tertentu, misalnya ketika lagi bosan, cobalah alihkan perhatiannya dengan sesuatu yang menarik. Contohnya dengan mengajaknya bermain, membacakan buku dongeng, atau melakukan hal-hal yang Si Kecil sukai.

d)    Tenangkan anak dengan cara lain

Apabila orang tua terbiasa memberikan dot untuk menenangkan anak, mulai sekarang jangan lakukan lagi, ya. Sebaiknya, kalau anak sudah mulai terlihat gelisah, tanyakan dulu apa perasaannya dan apa yang ia inginkan. Kemudian, barulah berikan anak belaian, pelukan, dan ciuman yang lembut untuk menenangkannya.

e)    Terapkan waktu terlarang

Jika anak sudah terbiasa untuk tidak mengisap dot, terutama di luar jam tidur, maka saatnya orang tua menerapkan waktu terlarang untuk ngempeng. Cobalah untuk tidak mengizinkan anak ngempeng saat tidur siang. Kalau ia sudah terbiasa, Ayah dan Bunda bisa menerapkannya saat tidur malam.

f)     Buang atau hilangkan dot

Orang tua juga bisa membuat rencana atau strategi ketika anak menginginkan dotnya. Misalnya dengan berpura-pura kehilangan dot saat anak menanyakan dotnya. Biarkan anak tahu bahwa dot kesayangannya sudah tidak ada dan jangan belikan lagi.

g)     Gunting dot

Gunting dot saat Si Kecil tidur dan beri tahu ia bahwa dot tersebut sudah rusak dan tidak bisa digunakan lagi. Kemudian, berikan juga penjelasan kepada Si Kecil bahwa mulai sekarang ia tidak boleh merengek meminta dot karena dotnya sudah tidak bisa dipakai lagi.

6.    Penanganan Bernafas melalui mulut

Apabila penangan dari kebisaan buruk bernafas melalui mulut dilakukan pada masa tumbuh kembang yang tepat. maka penyembuhannya dapat dicapai dalam jangka waktu yang singkat dan diperoleh hasil yang memuaskan. Penanganan bernafas melalui mulut sebaiknya dirawat segera pada masa geligi bercampur. Pada umumnya penaganan dengan memalai alat intra oral yaitu" oral screen". apabila pasien di dalam perawatannya kooperatif, maka hasilnya akan sangat memuaskan. Oral screen merupakan alat yanga baik, murah dan mudah pembuatannya. Pergerakan yang ditimbulkannya merupakan pergerakan fisiologis dan prinsip kerjanya seakan-akan mulut di tutup dengan plat akrilik.



  • Rusdiana, E., Goenharto, S., & Gathi, R. A. (2018). Variasi fixed tongue crib untuk mengatasi kebiasaan menjulurkan lidah (Variation of fixed tongue crib for correcting tongue thrusting habit). Journal of Vocational Health Studies, 1(1), 126-133. 
email : elsasalsabila812@gmail.com