Selasa, 12 November 2024

gigi berlubang masalah segala usia

 



Gigi berlubang merupakan masalah kesehatan gigi yang sangat umum terjadi dan dapat menyerang siapa saja, mulai dari anak-anak, orang dewasa, hingga orang lanjut usia. Kerusakan gigi terjadi ketika asam yang dihasilkan  bakteri di dalam mulut menyerang lapisan pelindung gigi (enamel) sehingga menimbulkan lubang atau gigi berlubang. Jika tidak ditangani, gigi berlubang dapat menyebabkan rasa sakit yang parah, infeksi, dan bahkan kehilangan gigi.

Artikel ini menjelaskan penyebab kerusakan gigi, faktor risiko spesifik usia, dan metode pencegahan yang efektif untuk menjaga kesehatan gigi.

Penyebab utama kerusakan gigi

Kerusakan gigi biasanya disebabkan oleh kebersihan mulut yang buruk dan pola makan yang tinggi gula dan asam. Berikut  beberapa faktor utama penyebab gigi berlubang:

1.     Bakteri di Mulut Bakteri di mulut mengubah gula dalam makanan menjadi asam yang menyerang email gigi.

 

2.     Sisa makanan dan minuman manis Makanan dan minuman manis merupakan makanan utama  bakteri penyebab kerusakan gigi.

 

3.     Kebiasaan Buruk Menyikat Gigi Jika Anda tidak menyikat gigi secara teratur atau menyeluruh, bakteri dan plak dapat menumpuk di permukaan gigi.

 

 Risiko kerusakan gigi berdasarkan usia

1.     Anak-anak

Anak-anak  lebih mungkin mengalami kerusakan gigi  karena pola makan tinggi gula, seperti: Misalnya: permen, coklat, dan  kurangnya pengetahuan tentang kebersihan gigi meningkatkan risiko kerusakan gigi. Selain itu, enamel gigi baru anak tipis dan mudah rusak.

2.     Remaja

Pada remaja, gaya hidup dan pola makan tinggi gula dan minuman berkarbonasi dapat meningkatkan risiko kerusakan gigi. Remaja seringkali mengabaikan perawatan gigi karena jadwal yang padat atau kurangnya kesadaran.

3.     Dewasa

Orang dewasa juga berisiko mengalami kerusakan gigi, terutama jika memiliki kebiasaan buruk seperti merokok atau sering mengonsumsi makanan dan minuman yang bersifat asam. Faktor lain yang dapat meningkatkan risiko Anda di usia ini adalah adanya gigi berlubang yang tidak segera ditangani saat Anda masih muda. Lubang tersebut pada akhirnya akan membesar dan memerlukan perawatan lebih lanjut.

 

 

 

4.     Lansia

Masalah gigi pada lansia seringkali dikaitkan dengan  mulut kering (xerostomia), yang dapat terjadi sebagai efek samping pengobatan tertentu. Mulut kering sebenarnya mengurangi jumlah air liur yang digunakan untuk menghilangkan partikel makanan dan bakteri dari gigi Anda. Ketika air liur berkurang, gigi orang lanjut usia lebih rentan berlubang.

 

Tanda dan Gejala Kerusakan Gigi 

Tanda dan Gejala Kerusakan Gigi yang mungkin Anda alami adalah:

·       Gigi terasa nyeri atau nyeri terutama saat mengunyah atau makan makanan panas, dingin, atau manis.

·       Lubang yang terlihat atau nyata pada permukaan gigi.

·       Gigi menjadi lebih sensitif dari biasanya.

·       Bau mulut terus-menerus.

Jika Anda atau anggota keluarga Anda mengalami gejala-gejala tersebut, sebaiknya segera temui dokter gigi untuk mencegah kondisi yang lebih serius.

Cara Mencegah Gigi Berlubang di Usia Berapapun

1.     Sikat Gigi Secara Teratur

Biasakan menyikat gigi dua kali sehari, terutama setelah sarapan dan sebelum tidur. Pelajari cara menyikat gigi yang benar untuk membersihkan seluruh permukaan gigi.

 

2.     Menggunakan Pasta Gigi yang Mengandung Fluorida

Fluorida memperkuat enamel gigi dan melindunginya dari asam yang dihasilkan bakteri.

 

3.     Kurangi asupan gula dan makanan asam.

Makanan manis dan asam dapat meningkatkan risiko kerusakan gigi. Cobalah untuk mengurangi asupan makanan seperti permen, soda, dan jus manis.

 

4.     Pemeriksaan gigi rutin 

Pemeriksaan gigi rutin enam bulan sekali dapat membantu mendeteksi gigi berlubang sejak dini. Jika masalah teridentifikasi, dokter gigi Anda dapat segera memulai perawatan yang diperlukan.

 

5.     Menggunakan Obat Kumur Disinfektan

Menggunakan obat kumur yang mengandung fluoride atau disinfektan dapat membantu membersihkan area yang sulit dijangkau sikat gigi dan membunuh bakteri.

 

6.     Minum air putih yang cukup

Minum air membantu menjaga produksi air liur, yang membantu menghilangkan partikel makanan dan bakteri dari mulut Anda.

 

 

7.     Mendidik Anak Tentang Kebersihan Gigi

Penting bagi orang tua untuk mengajarkan anak cara merawat gigi sejak dini agar kebiasaan baik tersebut terbawa hingga dewasa.

 Kesimpulan

Kerusakan gigi merupakan masalah kesehatan yang dapat terjadi pada semua usia dan seringkali disebabkan oleh pola makan yang tidak sehat dan kebersihan mulut yang buruk.Meskipun kerusakan gigi dapat diobati secara medis, pencegahan tetap merupakan cara terbaik untuk menjaga kesehatan gigi.Melalui kebiasaan sehat seperti rutin menyikat gigi, mengurangi asupan gula, dan melakukan pemeriksaan gigi secara rutin, Anda dapat mencegah gigi berlubang dan menjaga senyum sehat sepanjang hidup.

Perhatikan kesehatan gigi anak Anda sejak dini untuk mencegah kerusakan gigi.Ingat: Senyuman yang sehat dimulai dari gigi yang sehat.

 

 

pentingnya kesehatan gigi

 


Pentingnya Pemeriksaan Kesehatan Gigi Secara Rutin: Mencegah Lebih Baik daripada Mengobati

Kesehatan gigi dan mulut sering kali menjadi perhatian yang kurang diperhatikan oleh sebagian masyarakat. Banyak orang baru mengunjungi dokter gigi saat merasakan nyeri yang hebat atau ketika masalah pada gigi dan mulut sudah cukup parah. Fenomena ini umum terjadi dan sering kali menunjukkan bahwa kesadaran akan pentingnya pemeriksaan gigi secara rutin masih sangat rendah. Padahal, menjaga kesehatan gigi dan mulut tidak hanya berdampak pada penampilan, tetapi juga sangat mempengaruhi kesehatan tubuh secara keseluruhan.

 

Mengapa Pemeriksaan Gigi Rutin Itu Penting?

Pemeriksaan gigi secara rutin, idealnya setiap enam bulan sekali, memiliki banyak manfaat, antara lain:

 

1.     Mencegah Penyakit Gigi dan Mulut

Pemeriksaan berkala membantu mendeteksi masalah-masalah pada gigi, seperti gigi berlubang atau gingivitis, sebelum menjadi lebih serius. Deteksi dini ini memungkinkan dokter gigi untuk segera melakukan tindakan yang dibutuhkan, seperti pembersihan atau penambalan gigi, sehingga penyakit tidak semakin parah.

 

2.     Menjaga Kesehatan Mulut dan Tubuh Secara Keseluruhan

Kesehatan gigi dan mulut yang terjaga dapat mencegah berbagai penyakit kronis, seperti penyakit jantung, diabetes, dan penyakit pernapasan. Infeksi di area gigi atau gusi dapat menyebar ke organ lain dalam tubuh, sehingga rutin memeriksakan gigi berperan dalam menjaga kesehatan tubuh secara keseluruhan.

 

3.     Mengurangi Biaya Pengobatan

Pemeriksaan gigi rutin sering kali lebih murah dibandingkan biaya perawatan saat gigi sudah mengalami kerusakan parah. Misalnya, biaya untuk pembersihan gigi jauh lebih terjangkau dibandingkan dengan perawatan saluran akar atau pencabutan gigi yang lebih kompleks.

 

4.     Meningkatkan Kepercayaan Diri

Gigi yang sehat dan terawat membuat seseorang lebih percaya diri. Dengan rutin memeriksakan gigi, kita dapat mencegah bau mulut dan menjaga senyum tetap bersih dan indah.

 

 

Tantangan yang Dihadapi: Kesadaran Masyarakat yang Masih Rendah

Di banyak tempat, termasuk di lingkungan Puskesmas Pudak Payung, masih banyak masyarakat yang hanya datang ke fasilitas kesehatan ketika mengalami sakit gigi. Hal ini mungkin disebabkan oleh beberapa faktor, seperti:

 

·       Kurangnya Informasi: Tidak semua orang memahami pentingnya pemeriksaan gigi secara berkala.

·       Ketakutan atau Rasa Cemas terhadap Perawatan Gigi: Banyak yang merasa takut untuk pergi ke dokter gigi karena khawatir dengan prosedur perawatan yang mungkin menyakitkan.

·       Masalah Biaya: Beberapa orang merasa bahwa pemeriksaan gigi bukan prioritas, terutama jika mereka merasa tidak ada keluhan.

Perlunya Edukasi dan Peningkatan Kesadaran Masyarakat

Sebagai bagian dari upaya mendukung pembangunan kesehatan nasional, edukasi kesehatan gigi perlu terus ditingkatkan di tengah masyarakat. Berikut adalah beberapa langkah yang dapat diambil untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya kesehatan gigi:

1.     Edukasi Melalui Media Sosial dan Program Penyuluhan

Kampanye melalui media sosial, penyuluhan di sekolah-sekolah, serta kegiatan di posyandu dapat menjadi cara yang efektif untuk menyampaikan informasi tentang pentingnya pemeriksaan gigi secara rutin.

 

2.     Kerja Sama dengan Puskesmas dan Layanan Kesehatan

Puskesmas dapat mengadakan program pemeriksaan gigi berkala gratis atau dengan biaya terjangkau, khususnya di daerah-daerah yang memiliki akses terbatas ke dokter gigi.

 

3.     Menghadirkan Dokter Gigi di Lingkungan Sekolah

Melakukan pemeriksaan rutin di sekolah-sekolah dapat membentuk kebiasaan baik bagi anak-anak sejak dini, sehingga mereka lebih sadar akan pentingnya kesehatan gigi.

 

4.     Pendidikan Kesehatan di Keluarga 

Orang tua juga memegang peranan penting dalam memberikan contoh kepada anak-anak mereka mengenai pentingnya perawatan gigi dan mulut. 



 

 

Ayo, Jaga Kesehatan Gigi dan Mulut Kita! 

Dengan kesadaran yang lebih baik tentang pentingnya pemeriksaan gigi secara rutin, diharapkan masyarakat tidak lagi menunda-nunda untuk memeriksakan kondisi gigi dan mulutnya. Melakukan pemeriksaan gigi secara berkala merupakan investasi jangka panjang untuk kesehatan tubuh. Mari bersama-sama meningkatkan kesadaran kita dan berkomitmen untuk menjaga kesehatan gigi dan mulut, bukan hanya demi diri sendiri, tetapi juga untuk generasi mendatang. 

 

kesehatan gigi di Puskesmas Pudakpayung

 Profil Puskesmas Pudak Payung



Nama:Puskesmas PudakPayung
Alamat: Jl. Payung Mas Raya, Pudakpayung, Kec. Banyumanik, Kota Semarang, Jawa Tengah 50265
Telepon: (024) 7462711

VISI

Mewujudkan Masyarakat Hidup Sehat Secara Mandiri

 

MISI

  1. Meningkatkan Pelayanan Kesehatan yang Berkualitas
  2. Mewujudkan Pengetahuan Kemauan dan Kemampuan Masyarakat Agar Mampu Hidup Sehat

Layanan Kesehatan Gigi dan Mulut: Puskesmas Pudak Payung memiliki pelayanan kesehatan gigi yang berfokus pada pencegahan dan penanganan masalah gigi masyarakat. Layanan yang tersedia meliputi:

  • Pemeriksaan dan Pembersihan Gigi: Pemeriksaan rutin untuk mendeteksi masalah kesehatan gigi sejak dini, serta layanan pembersihan karang gigi.
  • Penanganan Gigi Berlubang dan Cabut Gigi: Melayani perawatan gigi berlubang, serta pencabutan gigi bila diperlukan.
  • Pendidikan dan Penyuluhan Kesehatan Gigi: Edukasi dan penyuluhan kepada pasien mengenai pentingnya menjaga kesehatan gigi dan mulut.
  • Promosi dan Pencegahan: Kampanye rutin untuk meningkatkan kesadaran masyarakat agar melakukan pemeriksaan gigi secara berkala, bukan hanya ketika merasa sakit.

Masalah Utama Kesehatan Gigi:
Salah satu permasalahan yang banyak dihadapi di Puskesmas Pudak Payung adalah kurangnya kesadaran masyarakat untuk melakukan pemeriksaan gigi rutin. Kebanyakan pasien datang ketika sudah mengalami sakit gigi atau masalah gigi yang parah. Hal ini menunjukkan pentingnya upaya edukasi berkelanjutan agar masyarakat memahami pentingnya pencegahan daripada hanya mengobati.

Jam Operasional:
Senin - Jumat: 07.30 - 15.00 WIB
Sabtu: 07.30 - 12.00 WIB
Minggu dan hari libur nasional: Tutup

Hari

Jam Pendaftaran

Jam Pelayanan

Senin-Kamis

07.00 - 16.00 WIB

07.00 - 17.00 WIB

Jumat

07.00 - 14.00 WIB

07.00 - 15.00 WIB

Sabtu

07.00 - 11.00 WIB

07.00 - 12.00 WIB

 

Akses dan Lokasi:

Puskesmas PudakPayung mudah diakses dari berbagai daerah di Kecamatan Banyumanik dan sekitarnya. Berlokasi di area yang strategis, puskesmas ini berperan penting dalam menyediakan layanan kesehatan yang terjangkau dan berkualitas bagi masyarakat sekitar.

 

haii.. aku Elsa, yuk kenali lebih jauh tentang gigi berlubang

 




Hai, perkenalkan aku Salsabila Noelani Fitri Asyikin teman temanku biasa panggil aku Elsa! Seorang Mahasiswa, yang punya ketertarikan besar di dunia Kesehatan gigi.aku mulai  tertarik tentang Kesehatan gigi ini dari smk, cuma ketertarikan biasa sih, melihat cara dokter gigi menangani pasien tuh kayaknya seru banget ya, bersihin karang gigi, atau melakukan penambalan, mana alatnya banyak banget, pasti seru gasih kalo kita banyak tau, sebenernya masuk di dunia Kesehatan ini aku nekat, aku kasih tau rahasia… jangan kasih tau siapa-siapa yaa hehe, aku tuh dulu takut sama darah, pertama kali aku jadi asisten dokter gigi waktu itu aku bantuin dokter gigi cabut gigi belakang, serem bangett woyyyyy darahnya banyak, sampe dokternya bilang kepasien “ lihat mas mbaknya sampe pucet “ haha malu banget, akhirnya aku mutusin buat belajar biar gak takut darah, aku sering nonton anime yang banyak darah darah gitu,pernah  denger attack on titan ga? Yakali masa gatau sih, sekarang udah mulai berani darah walaupun masih ngeri dikit kalau nonton film thriller hehe


.

Banyak Hobi


Selain sibuk dengan Studi, aku juga punya hobi tapi hobiku itu berubah ubah, dulu smp hobiku berkebun, seneng gitu lihat hijau hijau (sampe sekarang masih seneng si), dulu aku tanam cabe, bawang, tomat dll. Paling seneng tanam tomat si daunnya wangi soalnya, yang ku tanam juga ndak yang susah dirawat, mudah tanemnya juga tinggal ngambil di dapur udah bisa berkebun, terus naik smk aku suka ngegame, game apa aja aku mainin, paling suka mobile legends, tauuu kaaan?, masuk kuliah di semester akhir menurutku ngegame jadi banyak menyita waktu buat ngerjain tugas jadi kalau ada waktu luang aku nonton, nonton sambil makan, sambil nyetrika. Biasanya nyari film yang alurnya ringan soalnya kalau nonton yang alurnya berat sangat menguras emosi

Aku membuat blog ini karena ingin berbagi pengalaman. Di sini, aku akan menulis tentang gigi berlubang, seperti cara mengetahui gigi berlubang, bagaimana cara pencegahanya, dan bagaimana cara menyelesaikan masalahnya.

Lewat blog ini, aku berharap bisa memberikan informasi bermanfaat bagi kalian. Yuk, join dan jadi bagian dari perjalanan blogku!

Mau kenalan sama aku lebih dalam ndak hehe?, bole nih kita mutualan di IG ku : @elsnfa.35

Nah kita mulai dari bagaimana cara mengetahui gigi berlubang semua usia bisa mengalami gigi berlubang, Gigi berlubang atau karies adalah masalah gigi yang umum terjadi. Meskipun terkadang tidak menimbulkan rasa sakit di awal, penting untuk mendeteksinya sedini mungkin agar tidak semakin parah.cara mengetahui nya kalian bisa periksakan gigi 6 bulan sekali ke dokter gigi untuk pengecekan gigi rutin, awal gigi berlubang diawali titik hitam kecil pada gigi, biasanya tidak menimbulkan rasa sakit, tapi kalau dibiarkan akan semakin besar lubangnya, terkena panas, dingin, atau manis terasa ngilu, jika sudah merasa ada gigi berlubang langsung pergi ke dokter gigi ya untuk melakukan penambalan jangan sampai gigi mu berlubang sampai mengenai syaraf, kemarin waktu aku Praktik Kerja Lapangan di Puskesmas Pudakpayung aku jadi tau masih banyak orang yang menyepelakan tentang gigi berlubang, supaya gigi tidak berlubang kita harus menerapkan hidup sehat.



Gaya Hidup Sehat untuk Gigi Sehat:

1.       Konsumsi Makanan Bergizi:

    • Kurangi makanan dan minuman manis, Gula adalah penyebab utama gigi berlubang. Batasi konsumsi permen, cokelat, soda, dan jus buah kemasan.
    • Perbanyak konsumsi buah dan sayur, Buah dan sayur mengandung serat yang baik untuk kesehatan gigi dan gusi.
    • Konsumsi makanan kaya kalsium, Susu, keju, dan sayuran hijau membantu memperkuat email gigi.
  1. Jaga Kebersihan Mulut:

·       Sikat gigi minimal dua kali sehari, pagi setelah sarapan dan malam sebelum tidur

·       Gunakan pasta gigi yang mengandung fluoride.

·       Gunakan benang gigi, Benang gigi membantu membersihkan sela-sela gigi yang sulit dijangkau sikat gigi.

·       Kumur-kumur dengan mouthwash, Mouthwash dapat membantu membunuh bakteri penyebab plak.

  1. Periksakan Gigi Secara Berkala:

·       Pemeriksaan gigi secara teratur dapat mendeteksi masalah gigi sejak dini.

  1. Hindari Kebiasaan Buruk:

·       Jangan menggosok gigi terlalu keras karena dapat merusak enamel gigi.

·       Jangan menggunakan gigi untuk membuka kemasan

·       Jangan menggigit benda keras, Kebiasaan ini dapat merusak gigi.

Selain itu, ada beberapa hal lain yang perlu diperhatikan:

  • Merokok dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan, termasuk penyakit periodontal yang dapat menyebabkan gigi tanggal.
  • Mengonsumsi obat-obatan tertentu: Beberapa obat-obatan dapat menyebabkan mulut kering, yang dapat meningkatkan risiko gigi berlubang.

Kita juga harus menghilangkan kebiasaanburuk mulai dari kecil, untuk adik kita, untuk anak kita,Dengan menerapkan gaya hidup sehat, kita dapat menjaga kesehatan gigi dan mulut secara optimal. Gigi yang sehat tidak hanya membuat kita lebih percaya diri, tetapi juga merupakan indikator kesehatan tubuh secara keseluruhan.

 

 

Minggu, 25 Agustus 2024

ORAL BAD HABITS (kebiasaan buruk yang merusak kesehatan gigi)

 

A.   Macam-macam oral bad habits

1.    Mengisap jempol / jari




Kebiasaan menghisap jari dapat dimulai sejak bayi masih dalam. Salah satu pemicu kebiasaan ini adalah karena bayi merasa kurang puas menghisap susu dari ibu, yang mungkin dikarenakan hanya sedikit ASI yang keluar, ibu terlalu sibuk bekerja atau memang tidak ingin menyusui bayinya. Menghisap ibu jari dibagi menjadi 2 tipe:

a)    Aktif, yaitu anak-anak tersebut secara sadar menghisap ibu jarinya, apabila dibiarkan berkepanjangan, keadaan ini akan menyebabkan pergeseran posisi gigi dan mempengaruhi pertubuhan rahang atas dan rahang bawah

b)    Pasif, anak-anak hanya menempatkan jarinya didalam mulut tanpa menghisap.

Pengaruh dari menghisap ibu jari dapat menyebabkan anterior open bite, posisi gigi atas lebih maju, posisi gigi bawah mundur, langit-langit dalam, kesulitan/masalah berbibcara, gangguan pada ibu jari dll.

2.    Tongue thrust (kebiasaan mendorong lidah).

Tongue thrusting adalah suatu kebiasaan menjulurkan lidah yang berhubungan dengan proses penelanan yang pada kehidupan manusia mengalami perubahan sejak bayi hingga dewasa. Tanda-tanda tongue thrust yang paling sering terjadi adalah lidah maju, mendorong atau terletak diantara gigi-gigi anterior dan adanya aktivitas otot circum oral yang berlebihan selama penelanan. Ada 2 tipe, yaitu:

a)    Simple tounge thrust: Keadaan di mana lidah mendorong ke arah gigi depan saat menelan. Dihubungkan dengan kebiasaan menghisap jari, walaupun kebiasaan menghisap jari tidak lagi dilakukan, lidah tetap terdorong ke depan untuk menutup gigitan open bite saat dilakukan proses menelan.

b)    Kompleks tounge thrust: berhubungan dengan adanya masalah pernafasan dengan hidung, biasanya ditemukan pada kondisi anak yg bernafas dengan mulut.

Dampak dari kebiasaan mendorong lidah adalah maloklusi dan proklinasi gigi dengan diastema, hal tersebut akan mempermudah sisa makanan tersangkut, dan dehidrasi akibat gigitan terbuka dapat menyebabkan karies. Menurut penelitian Dixit, dkk (2013) dorongan lidah tampaknya mempengaruhi beberapa karakteristik jaringan lunak dan gigi yang menyebabkan ketidakmampuan bibir, kebiasaan bernafas melalui mulut, dan aktivitas otot mentalis hiperaktif, pembisuan, gigitan terbuka, dan proklinasi gigi seri atas.

3.    Kebiasaan menggigit dan menghisap bibir ( Lip sucking and lip biting)

Lip sucking (menghisap bibir) dan lip biting (menggigit bibir) menyebabkan gigitan gigi terbuka (open bite) dan gigi depan atas atau bawah terkadang miring ke arah depan (labioversi / gigi tonggos).

Mengigit bibir banyak ditemukan pada anak-anak, kadang terbawa hinga dewasa, hal ini dapat ditimbulkan karena keadaan emosional atau adanya tekanan/stress, sehingga timbul keinginan untuk menggigit gigi. Pengaruh dari kebiasaan ini menyebabkan kerusakan pada daerah bibir, sehingga kondisi bibir tidak terlihat sehat, selalu terdapat luka yang tidak kunjung sembuh, adanya cekungan pada bibir yang digigit

4.    Kebiasaan Menggigit Kuku

Mengigit kuku banyak ditemukan pada anak-anak, kadang terbawa hinga dewasa, hal ini dapat ditimbulkan karena keadaan emosional atau adanya tekanan/stress, sehingga timbul keinginan untuk menggigit gigi.

Pengaruh dari kebiasaan ini menyebabkan kerusakan pada gigi depan yang digunakan untuk menggigit, dapat mempengaruhi sendi pengunyahan, kerusakan pada daerah akar dari gigi tersebut.

Kebiasaan buruk menggigit-gigit kuku terjadi di mana posisi gigi seri atas dan bawah menerima tekanan dari kuku. Kebiasaan mengigit kuku biasanya terjadi pada anak-anak yang sebelumnya memiliki kebiasaan mengigit jari. Penyebab kebiasaan ini adalah adalah stres, meniru anggota keluarga lain, keturunan, perpindahan kebiasaan dari menghisap jari. Kebiasaan buruk ini dapat menyebabkan atrisi (menipisnya lapisan email) gigi-gigi bawah

5.    Kebiasaan menghisap botol susu

Kebiasaan minum susu memakai botol dan dibawa tidur sering dilakukan oleh anak usia sangat muda (1-3 tahun) yang dapat menyebabkan karies dini yang dinamakan Nursing Bottle Syndrome. Aliran saliva pada saat tidur berkurang sehingga susu menumpuk dan menggenangi gigi. Menyebabkan gigi yang berkontak dengan susu atau susu menempel rusak. Penggunaan dot yang berlebihan juga dapat mengubah posisi gigi dan menyebabkan ketidak selarasan dari gigi atas dan bawah.

Dampak dari kebiasaan menghisap botol susu adalah rampan karies dan apabila durasi menggunakannya terlalu  lama dan sering, akan menyebabkan maloklusi. Dijelaskan pada penelitian (Yulita, 2011) menggunakan botol dot dengan durasi, frekuensi dan intensitas yang berlebih dapat menyebabkan gigi depan menjadi maju (protrusif). Adapun menurut penelitian Fajriani, dkk.(2011) Kebiasaan penggunaan botol untuk minum susu pada malam hari merupakan hal yang paling sering terjadi sebagai penyebab karies dini pada anak.

6.    Bernafas melalui mulut

Salah satu bentuk kebiasaan oral yang paling sering menimbulkan kelainan struktur wajah dan oklusi gigi yaitu kebiasaan bernafas melalui mulut. Kebiasaan ini pada umumnya bersifat sementara, tetapi dalam beberapa kasus ada pula yang berlanjut sampai usia anak semakin meningkat. Sama halnya dengan kebiasaan oral lain, kebiasaan bernafas melalui mulut pada anak yang tidak dihentikan secara dini dapat merubah keseimbangan tekanan pada rahang dan gigi yang akan berpengaruh pada pertumbuhan kedua rahang dan posisi gigi, sehingga kebiasaan oral ini dapat menyebabkan maloklusi.

Kebiasaan bernafas melalui mulut merupakan suatu kelainan cara bernafas. Bernapas melalui mulut dapat memengaruhi bentuk rahang. Saat bernapas melalui mulut, otot-otot memberikan tekanan secara terus-menerus sehingga dapat menyebabkan terhambatnya perkembangan rahang bawah dan rahang atas yang membuat rahang menjadi lebih sempit dan dapat berakibat gigi berjejal.

 

B.   Bruxism


Bruxism adalah suatu kondisi yang tidak normal pada rongga mulut, yaitu gerakan-gerakan clinching (mengatupkan gigi pada rahang atas-bawah), dan bracing (menggertakkan gigi). Kebiasaan ini dilakukan tanpa disadari dan biasanya dilakukan pada saat tidur. Umumnya pada saat tidur akan terdengar suara gigi geligi beradu, karena terjadi tekanan sangat kuat maka hal tersebut akan menimbulkan masalah kesehatan gigi secara umum nantinya. Kebiasaan ini timbul pada saat gigi geligi sedang tumbuh (anak-anak) dan seiring dengan waktu, kebiasaan ini akan hilang dengan sendirinya pada saat remaja, namun ada yang menetap hingga dewasa. Menurut Rao (2008), kejadian bruxism terjadi pada anak dan dewasa sebesar 15%.

Bruxism bisa terjadi saat pengidapnya terjaga (terbangun) dan tertidur. Biasanya, pengidap bruxism akan merasa kelelahan pada pagi hari karena mengalami gangguan tidur. Selain itu, saat pagi hari akan terasa wajah yang pegal dan sakit kepala. Tanda lain bisa diperhatikan pada bentuk gigi. Pengidap bruxism akan lebih sering mengalami gigi retak, patah, atau goyang. Selain itu, gigi akan menjadi lebih sensitif dan otot rahang yang sering lelah atau terkunci.

Banyak penyebab dari bruxism, tetapi berdasarkan pengalaman klinis lebih banyak faktor herediter dan faktor emosional. Contohnya pada kasus herediter adalah apabila seorang anak mempunyai kebiasaan ini, biasanya salah satu dari orangtuanya mempunyai kebiasaan yang serupa. Penyebab bruxism lainnya dapat terjadi karena faktor neurotisme tinggi, anak yang melakukan pekerjaan rumah tangga yang dipaksakan oleh orang tua, rasa stress, kemarahan, rasa sakit, dan sering terjadi saat tidur tanpa disadari. Menurut Tarvade (2015) kebiasaan  oral adalah pola kontraksi otot yang dipelajari dan memiliki sifat yang sangat kompleks mereka terkait dengan kemarahan, kelaparan, tidur, erupsi gigi dan rasa takut.

Pada kondisi bruxism yang ringan, tidak diperlukan pengobatan khusus. Namun, jika penyakit ini sudah menyebabkan gangguan kesehatan lain atau perilaku, maka ada beberapa pengobatan yang bisa dilakukan:

a)    Memperbaiki Kondisi Gigi

Jika pengidap bruxism mengalami masalah kondisi gigi yang memicu gejala lainnya, perbaikan gigi perlu dilakukan untuk menurunkan risiko perburukan gejala. Pengobatan ini tidak dapat menghentikan bruxism, tetapi mencegah kerusakan gigi.

b)    Penggunaan Pelindung Gigi

Pelindung mulut dan gigi bisa digunakan untuk memisahkan gigi agar tidak mengalami kerusakan akibat bruxism.

c)    Mengelola Stres dengan Baik

Kondisi stres dan depresi yang tidak diatasi dengan baik memicu kondisi ini. Upaya-upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah adalah mengatasi stres, melakukan pola tidur sehat, dan mengunjungi dokter gigi secara rutin.

Upaya Mengatasi Oral Bad Habits

1.    Penanganan Menghisap Jari

Kebiasaan buruk menghisap jari tidak memerlukan penanganan apapun jika kebiasaan berhenti sebelum usia. tahun dan segera setelah dapat dihentikan, maloklusi akan terkoreksi secara spontan. Kebiasaan menghisap jari umumnya berhenti pada usia 2 tahun atau pada sekitar usia 4 tahun ketika interaksi anak dengan temannya meningkat. Menghisap ibu jari dapat dihentikan dengan memberikan nasehat berupa penjelasan secara halus dan bijaksana agar anak bersifat kooperatif. Dalam memberikan penjelasan, perlu diupayakan anak sadar dan tahu betul mengapa ia harus menghentikan kebiasaannya, misalnya tentang dampak negatif kotoran pada sela-sela kuku yang akan masuk ke mulut dan menyebabkan sakit perut. Anak-anak memiliki keterbatasan kemampuan penalaran secara logis, namun tetap perlu diberitahu bahwa gigi giginya kelak akan terlihat lebih baik jika mereka menghentikan kebiasaan itu. Cara lain adalah dengan membatasi gerakan tangan, misalnya dengan memakai pelindung siku elbow guard atau perban pada siku.

2.    Penanganan Menjulurkan lidah atau mendorong lidah

Menurut Aisyah (2016), penanganan yang bisa dilakukan untuk menghilangkan kebiasaan menjulurkan lidah pada anak-anak. antara lain:

a)    Terapi bicara

b)    Terapi myofunctional, menarik bibir bawah pasien. Sementara bibir menjauh dari gigi, pasien diminta untuk menelan. Jika pasien biasa menjulurkan lidahnya, bibir akan menjadi sedemikian kencang seolah berusaha untuk menarik jari- jari yang menarik bibir pada saat pasien berusaha menelan. Pasien yang menjulurkan lidah tidak dapat melakukan prosedur penelanan mekanis sampai bibi-bibir membuka rongga mulut

c)    Latihan lidah. berlatih meletakkan posisi lidah yang benar saat menelan. Pasien belajar melakukan "klik". Prosedur ini mengharuskan pasien meletakkan ujung lidah pada atap mulut dan menghentakkannya lepas dari palatum untuk membuat suara "klik". Posisi lidah pada palatum selama aktivitas ini kira-kira seperti posisi jika menelan dengan tepat. Pasien juga diminta membuat suara gumaman dimana pasien akan menghisap udara ke dalam atap mulutnya di sekililing lidah. Selama latihan ini, lidah secara alamiah meletakkan dirinya ke atap anterior palatum. Selanjutnya pasien akan meletakkan ujung lidah di posisi ini dan menelan. Latihan ini dilakukan terus-menerus sampai gerakan otot-otot menjadi lebih mudah dan lebih alamiah

d)    Pemakaian peranti ortodonti baik peranti lepasan maupun peranti cekat (tongue crib atau rakes). Baik aplikasi cekat maupun lepasan, keduanya sangat membantu menghilangkan kebiasaan menjulurkan lidah.

3.    Penanganan Lip Sucking/ Lip Biting

Penanganan yang dapat dilakukan untuk menghilangkan kebiasaan mengisap bibir atau menggigit bibir pada anak-anak antara lain :

a)    Myotherapi (latihan bibir)

·      Memanjangkan bibir atas menutupi incisivus rahang atas dan menumpangkan bibir bawah dengan tekanan di atas bibir atas

·      Memainkan alat tiup

b)    Orang tua harus berperan aktif mencari tahu tentang sebab-sebab yangmembuat anak stress. Konsultasi dengan seorang psikiater merupakan salah satu hal yang dapat membantu dalam menghilangkan kebiasaan buruk ini.

4.    Penanganan Kebiasaan menggigit kuku

a.     Memotong kuku

Salah satu cara menghentikan perilaku menggigit kuku adalah rutin memotong kuku agar dapat menjaganya tetap pendek.Pasalnya, kuku panjang cenderung lebih menarik untuk digigit dibandingkan kuku dengan ukuran pendek. Jangan tunggu panjang supaya kita tidak punya kesempatan untuk gigit-gigit kukunya lagi.

b.    Gunakan pewarna kuku

Cat kuku biasanya membuat kuku menjadi tidak enak dan cenderung pahit saat digigit dan dengan kuku yang berwarna-warni, akan membuat sayang untuk menggigiti kukunya.

c.     Menggunakan sarung tangan

Memakai sarung tangan dapat mengurangi kebiasaan menggigit kuku.

d.    Buat tangan atau mulut tetap sibuk

Alih-alih menggigit kuku, bisa juga dengan mengalihkan perhatian tersebut dengan aktivitas lainnya. Cobalah untuk mengalihkan perhatian dengan menggambar, menulis, atau mengunyah permen karet.

e.     Mengatasi kebiasaan secara bertahap

Tidak mudah melepaskan suatu kebiasaan. Jangankan pada anak kecil, orang dewasa pun kadang juga susah untuk meninggalkan kebiasaan buruk mereka. Maka dari itu perlu diketahui dampak kerugian dari menggigiti kuku, dengan begitu perlahan orang yang memiliki kebiasaan tersebut akan menghilangkan kebiasaan mereka.

5.    Penanganan Kebiasaan menghisap dot

a)    Batasi kebiasaan ngempeng

b)    Jika sebelumnya anak selalu mengisap dot setiap saat, maka mulai sekarang, cobalah untuk membatasi kebiasaannya tersebut. Upaya ini bisa orang tua lakukan misalnya dengan memperbolehkan Si Kecil untuk ngempeng pada saat tidur siang dan malam saja.

c)    Alihkan perhatian anak

Apabila anak ingin ngempeng pada saat-saat tertentu, misalnya ketika lagi bosan, cobalah alihkan perhatiannya dengan sesuatu yang menarik. Contohnya dengan mengajaknya bermain, membacakan buku dongeng, atau melakukan hal-hal yang Si Kecil sukai.

d)    Tenangkan anak dengan cara lain

Apabila orang tua terbiasa memberikan dot untuk menenangkan anak, mulai sekarang jangan lakukan lagi, ya. Sebaiknya, kalau anak sudah mulai terlihat gelisah, tanyakan dulu apa perasaannya dan apa yang ia inginkan. Kemudian, barulah berikan anak belaian, pelukan, dan ciuman yang lembut untuk menenangkannya.

e)    Terapkan waktu terlarang

Jika anak sudah terbiasa untuk tidak mengisap dot, terutama di luar jam tidur, maka saatnya orang tua menerapkan waktu terlarang untuk ngempeng. Cobalah untuk tidak mengizinkan anak ngempeng saat tidur siang. Kalau ia sudah terbiasa, Ayah dan Bunda bisa menerapkannya saat tidur malam.

f)     Buang atau hilangkan dot

Orang tua juga bisa membuat rencana atau strategi ketika anak menginginkan dotnya. Misalnya dengan berpura-pura kehilangan dot saat anak menanyakan dotnya. Biarkan anak tahu bahwa dot kesayangannya sudah tidak ada dan jangan belikan lagi.

g)     Gunting dot

Gunting dot saat Si Kecil tidur dan beri tahu ia bahwa dot tersebut sudah rusak dan tidak bisa digunakan lagi. Kemudian, berikan juga penjelasan kepada Si Kecil bahwa mulai sekarang ia tidak boleh merengek meminta dot karena dotnya sudah tidak bisa dipakai lagi.

6.    Penanganan Bernafas melalui mulut

Apabila penangan dari kebisaan buruk bernafas melalui mulut dilakukan pada masa tumbuh kembang yang tepat. maka penyembuhannya dapat dicapai dalam jangka waktu yang singkat dan diperoleh hasil yang memuaskan. Penanganan bernafas melalui mulut sebaiknya dirawat segera pada masa geligi bercampur. Pada umumnya penaganan dengan memalai alat intra oral yaitu" oral screen". apabila pasien di dalam perawatannya kooperatif, maka hasilnya akan sangat memuaskan. Oral screen merupakan alat yanga baik, murah dan mudah pembuatannya. Pergerakan yang ditimbulkannya merupakan pergerakan fisiologis dan prinsip kerjanya seakan-akan mulut di tutup dengan plat akrilik.



  • Rusdiana, E., Goenharto, S., & Gathi, R. A. (2018). Variasi fixed tongue crib untuk mengatasi kebiasaan menjulurkan lidah (Variation of fixed tongue crib for correcting tongue thrusting habit). Journal of Vocational Health Studies, 1(1), 126-133. 
email : elsasalsabila812@gmail.com