A.
Macam-macam oral bad habits
1.
Mengisap jempol / jari
Kebiasaan
menghisap jari dapat dimulai sejak bayi masih dalam. Salah satu pemicu
kebiasaan ini adalah karena bayi merasa kurang puas menghisap susu dari ibu,
yang mungkin dikarenakan hanya sedikit ASI yang keluar, ibu terlalu sibuk
bekerja atau memang tidak ingin menyusui bayinya. Menghisap ibu jari dibagi
menjadi 2 tipe:
a)
Aktif, yaitu anak-anak tersebut secara sadar
menghisap ibu jarinya, apabila dibiarkan berkepanjangan, keadaan ini akan
menyebabkan pergeseran posisi gigi dan mempengaruhi pertubuhan rahang atas dan
rahang bawah
b)
Pasif, anak-anak hanya menempatkan jarinya didalam
mulut tanpa menghisap.
Pengaruh dari menghisap ibu jari
dapat menyebabkan anterior open bite, posisi gigi atas lebih maju, posisi gigi
bawah mundur, langit-langit dalam, kesulitan/masalah berbibcara, gangguan pada
ibu jari dll.
2.
Tongue thrust (kebiasaan mendorong
lidah).
Tongue
thrusting adalah suatu kebiasaan menjulurkan lidah yang berhubungan dengan
proses penelanan yang pada kehidupan manusia mengalami perubahan sejak bayi
hingga dewasa. Tanda-tanda tongue thrust yang paling sering terjadi adalah
lidah maju, mendorong atau terletak diantara gigi-gigi anterior dan adanya
aktivitas otot circum oral yang berlebihan selama penelanan. Ada 2 tipe, yaitu:
a)
Simple tounge thrust: Keadaan di mana lidah
mendorong ke arah gigi depan saat menelan. Dihubungkan dengan kebiasaan
menghisap jari, walaupun kebiasaan menghisap jari tidak lagi dilakukan, lidah
tetap terdorong ke depan untuk menutup gigitan open bite saat dilakukan proses
menelan.
b)
Kompleks tounge thrust: berhubungan dengan adanya
masalah pernafasan dengan hidung, biasanya ditemukan pada kondisi anak yg
bernafas dengan mulut.
Dampak dari
kebiasaan mendorong lidah adalah maloklusi dan proklinasi gigi dengan diastema,
hal tersebut akan mempermudah sisa makanan tersangkut, dan dehidrasi akibat
gigitan terbuka dapat menyebabkan karies. Menurut penelitian Dixit, dkk (2013)
dorongan lidah tampaknya mempengaruhi beberapa karakteristik jaringan lunak dan
gigi yang menyebabkan ketidakmampuan bibir, kebiasaan bernafas melalui mulut,
dan aktivitas otot mentalis hiperaktif, pembisuan, gigitan terbuka, dan
proklinasi gigi seri atas.
3.
Kebiasaan menggigit dan menghisap bibir
( Lip sucking and lip biting)
Lip
sucking (menghisap bibir) dan lip biting (menggigit bibir) menyebabkan gigitan
gigi terbuka (open bite) dan gigi depan atas atau bawah terkadang miring ke
arah depan (labioversi / gigi tonggos).
Mengigit
bibir banyak ditemukan pada anak-anak, kadang terbawa hinga dewasa, hal ini
dapat ditimbulkan karena keadaan emosional atau adanya tekanan/stress, sehingga
timbul keinginan untuk menggigit gigi. Pengaruh dari kebiasaan ini menyebabkan
kerusakan pada daerah bibir, sehingga kondisi bibir tidak terlihat sehat,
selalu terdapat luka yang tidak kunjung sembuh, adanya cekungan pada bibir yang
digigit
4.
Kebiasaan Menggigit Kuku
Mengigit
kuku banyak ditemukan pada anak-anak, kadang terbawa hinga dewasa, hal ini
dapat ditimbulkan karena keadaan emosional atau adanya tekanan/stress, sehingga
timbul keinginan untuk menggigit gigi.
Pengaruh dari
kebiasaan ini menyebabkan kerusakan pada gigi depan yang digunakan untuk
menggigit, dapat mempengaruhi sendi pengunyahan, kerusakan pada daerah akar
dari gigi tersebut.
Kebiasaan
buruk menggigit-gigit kuku terjadi di mana posisi gigi seri atas dan bawah
menerima tekanan dari kuku. Kebiasaan mengigit kuku biasanya terjadi pada
anak-anak yang sebelumnya memiliki kebiasaan mengigit jari. Penyebab kebiasaan
ini adalah adalah stres, meniru anggota keluarga lain, keturunan, perpindahan
kebiasaan dari menghisap jari. Kebiasaan buruk ini dapat menyebabkan atrisi
(menipisnya lapisan email) gigi-gigi bawah
5.
Kebiasaan menghisap botol susu
Kebiasaan
minum susu memakai botol dan dibawa tidur sering dilakukan oleh anak usia
sangat muda (1-3 tahun) yang dapat menyebabkan karies dini yang dinamakan
Nursing Bottle Syndrome. Aliran saliva pada saat tidur berkurang sehingga susu
menumpuk dan menggenangi gigi. Menyebabkan gigi yang berkontak dengan susu atau
susu menempel rusak. Penggunaan dot yang berlebihan juga dapat mengubah posisi
gigi dan menyebabkan ketidak selarasan dari gigi atas dan bawah.
Dampak
dari kebiasaan menghisap botol susu adalah rampan karies dan apabila durasi
menggunakannya terlalu lama dan sering,
akan menyebabkan maloklusi. Dijelaskan pada penelitian (Yulita, 2011)
menggunakan botol dot dengan durasi, frekuensi dan intensitas yang berlebih
dapat menyebabkan gigi depan menjadi maju (protrusif). Adapun menurut
penelitian Fajriani, dkk.(2011) Kebiasaan penggunaan botol untuk minum susu
pada malam hari merupakan hal yang paling sering terjadi sebagai penyebab
karies dini pada anak.
6.
Bernafas melalui mulut
Salah
satu bentuk kebiasaan oral yang paling sering menimbulkan kelainan struktur
wajah dan oklusi gigi yaitu kebiasaan bernafas melalui mulut. Kebiasaan ini
pada umumnya bersifat sementara, tetapi dalam beberapa kasus ada pula yang
berlanjut sampai usia anak semakin meningkat. Sama halnya dengan kebiasaan oral
lain, kebiasaan bernafas melalui mulut pada anak yang tidak dihentikan secara
dini dapat merubah keseimbangan tekanan pada rahang dan gigi yang akan
berpengaruh pada pertumbuhan kedua rahang dan posisi gigi, sehingga kebiasaan
oral ini dapat menyebabkan maloklusi.
Kebiasaan
bernafas melalui mulut merupakan suatu kelainan cara bernafas. Bernapas melalui
mulut dapat memengaruhi bentuk rahang. Saat bernapas melalui mulut, otot-otot
memberikan tekanan secara terus-menerus sehingga dapat menyebabkan terhambatnya
perkembangan rahang bawah dan rahang atas yang membuat rahang menjadi lebih
sempit dan dapat berakibat gigi berjejal.
B.
Bruxism
Bruxism
adalah suatu kondisi yang tidak normal pada rongga mulut, yaitu gerakan-gerakan
clinching (mengatupkan gigi pada rahang atas-bawah), dan bracing (menggertakkan
gigi). Kebiasaan ini dilakukan tanpa disadari dan biasanya dilakukan pada saat
tidur. Umumnya pada saat tidur akan terdengar suara gigi geligi beradu, karena
terjadi tekanan sangat kuat maka hal tersebut akan menimbulkan masalah
kesehatan gigi secara umum nantinya. Kebiasaan ini timbul pada saat gigi geligi
sedang tumbuh (anak-anak) dan seiring dengan waktu, kebiasaan ini akan hilang
dengan sendirinya pada saat remaja, namun ada yang menetap hingga dewasa.
Menurut Rao (2008), kejadian bruxism terjadi pada anak dan dewasa sebesar 15%.
Bruxism bisa
terjadi saat pengidapnya terjaga (terbangun) dan tertidur. Biasanya, pengidap
bruxism akan merasa kelelahan pada pagi hari karena mengalami gangguan tidur.
Selain itu, saat pagi hari akan terasa wajah yang pegal dan sakit kepala. Tanda
lain bisa diperhatikan pada bentuk gigi. Pengidap bruxism akan lebih sering
mengalami gigi retak, patah, atau goyang. Selain itu, gigi akan menjadi lebih
sensitif dan otot rahang yang sering lelah atau terkunci.
Banyak penyebab dari bruxism, tetapi berdasarkan
pengalaman klinis lebih banyak faktor herediter dan faktor emosional. Contohnya
pada kasus herediter adalah apabila seorang anak mempunyai kebiasaan ini,
biasanya salah satu dari orangtuanya mempunyai kebiasaan yang serupa. Penyebab
bruxism lainnya dapat terjadi karena faktor neurotisme tinggi, anak yang
melakukan pekerjaan rumah tangga yang dipaksakan oleh orang tua, rasa stress,
kemarahan, rasa sakit, dan sering terjadi saat tidur tanpa disadari. Menurut Tarvade
(2015) kebiasaan oral adalah pola
kontraksi otot yang dipelajari dan memiliki sifat yang sangat kompleks mereka
terkait dengan kemarahan, kelaparan, tidur, erupsi gigi dan rasa takut.
Pada kondisi
bruxism yang ringan, tidak diperlukan pengobatan khusus. Namun, jika penyakit
ini sudah menyebabkan gangguan kesehatan lain atau perilaku, maka ada beberapa
pengobatan yang bisa dilakukan:
a)
Memperbaiki Kondisi Gigi
Jika
pengidap bruxism mengalami masalah kondisi gigi yang memicu gejala lainnya,
perbaikan gigi perlu dilakukan untuk menurunkan risiko perburukan gejala.
Pengobatan ini tidak dapat menghentikan bruxism, tetapi mencegah kerusakan
gigi.
b)
Penggunaan Pelindung Gigi
Pelindung
mulut dan gigi bisa digunakan untuk memisahkan gigi agar tidak mengalami
kerusakan akibat bruxism.
c)
Mengelola Stres dengan Baik
Kondisi
stres dan depresi yang tidak diatasi dengan baik memicu kondisi ini. Upaya-upaya
yang dapat dilakukan untuk mencegah adalah mengatasi stres, melakukan pola
tidur sehat, dan mengunjungi dokter gigi secara rutin.
Upaya Mengatasi Oral Bad Habits
1.
Penanganan Menghisap Jari
Kebiasaan buruk menghisap jari tidak memerlukan
penanganan apapun jika kebiasaan berhenti sebelum usia. tahun dan segera
setelah dapat dihentikan, maloklusi akan terkoreksi secara spontan. Kebiasaan
menghisap jari umumnya berhenti pada usia 2 tahun atau pada sekitar usia 4
tahun ketika interaksi anak dengan temannya meningkat. Menghisap ibu jari dapat
dihentikan dengan memberikan nasehat berupa penjelasan secara halus dan
bijaksana agar anak bersifat kooperatif. Dalam memberikan penjelasan, perlu
diupayakan anak sadar dan tahu betul mengapa ia harus menghentikan
kebiasaannya, misalnya tentang dampak negatif kotoran pada sela-sela kuku yang
akan masuk ke mulut dan menyebabkan sakit perut. Anak-anak memiliki
keterbatasan kemampuan penalaran secara logis, namun tetap perlu diberitahu
bahwa gigi giginya kelak akan terlihat lebih baik jika mereka menghentikan
kebiasaan itu. Cara lain adalah dengan membatasi gerakan tangan, misalnya
dengan memakai pelindung siku elbow guard atau perban pada siku.
2.
Penanganan Menjulurkan lidah atau
mendorong lidah
Menurut
Aisyah (2016), penanganan yang bisa dilakukan untuk menghilangkan kebiasaan
menjulurkan lidah pada anak-anak. antara lain:
a)
Terapi bicara
b)
Terapi myofunctional, menarik bibir bawah pasien.
Sementara bibir menjauh dari gigi, pasien diminta untuk menelan. Jika pasien
biasa menjulurkan lidahnya, bibir akan menjadi sedemikian kencang seolah
berusaha untuk menarik jari- jari yang menarik bibir pada saat pasien berusaha
menelan. Pasien yang menjulurkan lidah tidak dapat melakukan prosedur penelanan
mekanis sampai bibi-bibir membuka rongga mulut
c)
Latihan lidah. berlatih meletakkan posisi lidah yang
benar saat menelan. Pasien belajar melakukan "klik". Prosedur ini
mengharuskan pasien meletakkan ujung lidah pada atap mulut dan menghentakkannya
lepas dari palatum untuk membuat suara "klik". Posisi lidah pada
palatum selama aktivitas ini kira-kira seperti posisi jika menelan dengan
tepat. Pasien juga diminta membuat suara gumaman dimana pasien akan menghisap
udara ke dalam atap mulutnya di sekililing lidah. Selama latihan ini, lidah
secara alamiah meletakkan dirinya ke atap anterior palatum. Selanjutnya pasien
akan meletakkan ujung lidah di posisi ini dan menelan. Latihan ini dilakukan
terus-menerus sampai gerakan otot-otot menjadi lebih mudah dan lebih alamiah
d)
Pemakaian peranti ortodonti baik peranti lepasan
maupun peranti cekat (tongue crib atau rakes). Baik aplikasi cekat maupun
lepasan, keduanya sangat membantu menghilangkan kebiasaan menjulurkan lidah.
3.
Penanganan Lip Sucking/ Lip Biting
Penanganan
yang dapat dilakukan untuk menghilangkan kebiasaan mengisap bibir atau
menggigit bibir pada anak-anak antara lain :
a)
Myotherapi (latihan bibir)
·
Memanjangkan bibir atas menutupi incisivus rahang
atas dan menumpangkan bibir bawah dengan tekanan di atas bibir atas
·
Memainkan alat tiup
b)
Orang tua harus berperan aktif mencari tahu tentang
sebab-sebab yangmembuat anak stress. Konsultasi dengan seorang psikiater
merupakan salah satu hal yang dapat membantu dalam menghilangkan kebiasaan
buruk ini.
4.
Penanganan Kebiasaan menggigit kuku
a.
Memotong kuku
Salah
satu cara menghentikan perilaku menggigit kuku adalah rutin memotong kuku agar
dapat menjaganya tetap pendek.Pasalnya, kuku panjang cenderung lebih menarik
untuk digigit dibandingkan kuku dengan ukuran pendek. Jangan tunggu panjang
supaya kita tidak punya kesempatan untuk gigit-gigit kukunya lagi.
b.
Gunakan pewarna kuku
Cat
kuku biasanya membuat kuku menjadi tidak enak dan cenderung pahit saat digigit
dan dengan kuku yang berwarna-warni, akan membuat sayang untuk menggigiti
kukunya.
c.
Menggunakan sarung tangan
Memakai
sarung tangan dapat mengurangi kebiasaan menggigit kuku.
d.
Buat tangan atau mulut tetap sibuk
Alih-alih
menggigit kuku, bisa juga dengan mengalihkan perhatian tersebut dengan
aktivitas lainnya. Cobalah untuk mengalihkan perhatian dengan menggambar,
menulis, atau mengunyah permen karet.
e.
Mengatasi kebiasaan secara bertahap
Tidak
mudah melepaskan suatu kebiasaan. Jangankan pada anak kecil, orang dewasa pun
kadang juga susah untuk meninggalkan kebiasaan buruk mereka. Maka dari itu
perlu diketahui dampak kerugian dari menggigiti kuku, dengan begitu perlahan
orang yang memiliki kebiasaan tersebut akan menghilangkan kebiasaan mereka.
5.
Penanganan Kebiasaan menghisap dot
a)
Batasi kebiasaan ngempeng
b)
Jika sebelumnya anak selalu mengisap dot setiap
saat, maka mulai sekarang, cobalah untuk membatasi kebiasaannya tersebut. Upaya
ini bisa orang tua lakukan misalnya dengan memperbolehkan Si Kecil untuk
ngempeng pada saat tidur siang dan malam saja.
c)
Alihkan perhatian anak
Apabila
anak ingin ngempeng pada saat-saat tertentu, misalnya ketika lagi bosan,
cobalah alihkan perhatiannya dengan sesuatu yang menarik. Contohnya dengan
mengajaknya bermain, membacakan buku dongeng, atau melakukan hal-hal yang Si
Kecil sukai.
d)
Tenangkan anak dengan cara lain
Apabila
orang tua terbiasa memberikan dot untuk menenangkan anak, mulai sekarang jangan
lakukan lagi, ya. Sebaiknya, kalau anak sudah mulai terlihat gelisah, tanyakan
dulu apa perasaannya dan apa yang ia inginkan. Kemudian, barulah berikan anak
belaian, pelukan, dan ciuman yang lembut untuk menenangkannya.
e)
Terapkan waktu terlarang
Jika
anak sudah terbiasa untuk tidak mengisap dot, terutama di luar jam tidur, maka
saatnya orang tua menerapkan waktu terlarang untuk ngempeng. Cobalah untuk
tidak mengizinkan anak ngempeng saat tidur siang. Kalau ia sudah terbiasa, Ayah
dan Bunda bisa menerapkannya saat tidur malam.
f)
Buang atau hilangkan dot
Orang
tua juga bisa membuat rencana atau strategi ketika anak menginginkan dotnya.
Misalnya dengan berpura-pura kehilangan dot saat anak menanyakan dotnya.
Biarkan anak tahu bahwa dot kesayangannya sudah tidak ada dan jangan belikan
lagi.
g)
Gunting dot
Gunting
dot saat Si Kecil tidur dan beri tahu ia bahwa dot tersebut sudah rusak dan
tidak bisa digunakan lagi. Kemudian, berikan juga penjelasan kepada Si Kecil
bahwa mulai sekarang ia tidak boleh merengek meminta dot karena dotnya sudah
tidak bisa dipakai lagi.
6.
Penanganan Bernafas melalui mulut
Apabila penangan dari kebisaan buruk bernafas
melalui mulut dilakukan pada masa tumbuh kembang yang tepat. maka penyembuhannya
dapat dicapai dalam jangka waktu yang singkat dan diperoleh hasil yang
memuaskan. Penanganan bernafas melalui mulut sebaiknya dirawat segera pada masa
geligi bercampur. Pada umumnya penaganan dengan memalai alat intra oral
yaitu" oral screen". apabila pasien di dalam perawatannya kooperatif,
maka hasilnya akan sangat memuaskan. Oral screen merupakan alat yanga baik,
murah dan mudah pembuatannya. Pergerakan yang ditimbulkannya merupakan
pergerakan fisiologis dan prinsip kerjanya seakan-akan mulut di tutup dengan
plat akrilik.
- Rusdiana, E., Goenharto, S., & Gathi, R. A. (2018). Variasi fixed tongue crib untuk mengatasi kebiasaan menjulurkan lidah (Variation of fixed tongue crib for correcting tongue thrusting habit). Journal of Vocational Health Studies, 1(1), 126-133.
email : elsasalsabila812@gmail.com